BUDAYA DESA KESAMBI

Oleh: Ninik Tri Fafinia

Budaya merupakan suatu karya yang ada
dalam lingkungan masyarakat tertentu yang lahir
dan berkembang secara turun temurun dan terus
diyakini juga dilestarikan terhadap suku atau
masyarakat adat. Adat sendiri merupakan bagian
dari kebudayaan yang terbentuk berdasarkan
norma, budaya, kebiasaan, dan hukum adat yang
mengatur tingkah laku manusia dalam kelompok
masyarakat. Kebiasaan yang berkembang dan
terus dilestarikan oleh masyarakat adat yang
merupakan bagian dari kebudayaan disebut
dengan tradisi budaya. Seperti halnya yang akan
kita bahas dalam pembahasan di bawah ini adalah
contoh tradisi kebudayaan yang ada dan
berkembang dalam masyarakat Desa Kesambi
Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung.
Masyarakat Desa Kesambi mempunyai
tradisi kebudayaan unik dalam memanjatkan rasa
syukur atas segala sesuatu nikmat yang telah
diberikan oleh Alloh SWT. Salah satu budaya
yang ada di Desa Kesambi Bandung itu sering
disebut dengan “Brokohan”. Brokohan sendiri
dilakukan dengan tujuan untuk memanjatkan rasa
syukur terhadap sesuatu nikmat yang diberikan
oleh Alloh SWT dengan cara mengadakan acara

[1]

yang mirip seperti selamatan/genduren/kenduri.
Brokohan dilakukan oleh masyarakat Desa
Kesambi dengan banyak macamnya, diantaranya
adalah:
A. Brokohan menyambut bayi yang baru lahir
Brokohan merupakann upacara adat dalam
menyambut bayi yang baru lahir. Brokohan atas
bayi yang baru lahir dilakukan sebagai ucapan rasa
syukur dan suka cita kepada Alloh SWT atas
kelahiran bayi atau anak yang telah dilahirkan
dengan selamat. Brokohan juga ditujukan dengan
maksud untuk memperoleh berkah dari Alloh
SWT dan meminta perlindungan kepada-Nya atas
bayi yang dilahirkan. Dengan dilakukan brokohan
diharapkan bayi yang dilahirkan mempunyai
perilaku yang baik dan dilancarkan rezeki anak
tersebut.
Rangkaian upacara ini berupa memendam
ari-ari atau plasenta si bayi. Setelah itu dilanjutkan
dengan membagikan sesajen brokohan kepada
sanak saudara dan para tetangga. Perlengkpan
upacara yang dibutuhkan yakni:
1) Golongan bangsawan: dawet, telur mentah,
jangan menir, sekul ambeng, nasi dengan
lauk, jeroan kerbau, pecel dengan lauk
ayam, kembang setaman, kelapa dan beras
2) Golongan rakyat biasa: nasi ambengan
yang terdiri dari nasi jangan, lauk pauknya
peyek, sambel goreng, tempe, mihun,
jangan menir, dan pecel ayam. Ada

[2]

beberapa perlengkapan sesaji yang harus
disediakan, untuk bayi laki – laki sesaji
yang digunakan adalah ayam betina yang
belum pernah kawin. Sedangkan untuk
bayi perempuan adalah ayam jantan yang
belum pernah kawin. Sesajian lainnya baik
untuk bayi laki-laki maupun bayi
perempuan adalah jenang baro-baro, bunga
raken, jenang putih, dan jenang merah
putih. Upacara permohonan yang
diharapkan agar si bayi menjadi anak baik
yang dimulai dengan penanaman ari-ari
dan membagikan brokohan yang untuk
para tetangga. Brokohan ini berupa telur
ayam mentah, gula jawa setengah tangkep,
kelapa setengah buah, dawet dan kembang
brokohan yaitu mawar, melati dan kantil.
Upacara ini dilaksanakan segera setelah
bayi lahir dan dihadiri oleh si ibu, suami,
keluarga, dukun, pinisepuh dan putra-putri
keluarga. Namun terdapat makanan
pantangan yaitu sambal, sayur bersantan,
telur ikan tawar dan telur asin.
B. Brokohan atas nikmat yang diberikan oleh
Alloh swt berupa hasil panen yang
melimpah
Tradisi brokohan dilakukan oleh
masyarakat Desa Kesambi Kecamatan
Bandung Karena mendapatkan hasil panen
yang melimpah Brokohan atas hasil panen

[3]

melimpah ini biasanya dilakukan oleh
masyarakat Desa Kesambi tepatnya dusun
jambe dengan cara menggelar tikar di tanah
yang lapang dan dihadiri oleh sebagian banyak
masyarakat Dusun Jambe dan dilanjutkan
dengn acara “murak berkat/ambeng”.
Berkat/ambeng adalah berupa nasi, ayam
lodho, urap, dan berbagai macam lauk pauk
yang disediakan oleh masyarakat dengan cara
urunan (setiap warga yang mampu membawa
nasi dan lodo beserta lauk pauk di dalam
ember) kemudian disajikan untuk masyarakat
yang hadir dalam acara. Dalam acara ini tidak
hanya dilakukan dengan makan bersama saja
namun sebelum itu masyarakat desa
melakukan kegiatan menggelar do’a bersama
atas hasil panen mereka. Selain masyarakat
dusun/desa kegiatan ini biasanya dihadiri oleh
bapak lurah.
Acara ini sangat ramai karena dihadiri
oleh sebagian besar masyarakat dusun atau
desa. Hal ini dilakukan attas rasa syukur yang
banyak kepada Alloh SWT dan juga untuk
menjalin hubungaan kekerabatan antar warga
satu sama lain. Brokohan atas hasil panen ini
melambangkan kerukunan antar warga Dusun
Jambe Desa Kesambi Bandung Tulungagung.

[4]

C. Brokohan setelah membeli sepeda
motor/mobil( kendaraan) yang baru di beli
Mayoritas masyarakat Desa Kesambi
masih melestarikan tradisi brokohan atas
sepeda motor atau mobil baik itu baru (cash
maupun kredit) dan bekas, brokohan tersebut
dilakukan dengan cara mirip seperti
slametan/kenduri yakni menyajikan nasi dan
ambeng (lodho) dan kemudian diundang para
tetangga kanan kirinya seperti kenduri biasa.
Yang berbeda dari brokohan ini adalah
kendaraan yang baru dibeli tadi di siram
dengan air kembang. Tradisi ini dilakukan
dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa
syukur atas bisa terbelinya kendaraan, dan
untuk memohon keselamatan supaya
kendaraan dan orang yang mengendarai nya
selamat dan terhindar dari segala mara bahaya
di jalan.
D. Brokohan dalam membuka usaha baru
Dalam membuka usaha baru
Masyarakat di desa Kesambi Bandung
melakukan brokohan atas usaha barunya.
Bentuk brokohan atas usaha baru ini sangat
mirip dengan kenduri atau slametan biasa
bahkan jika dilihat sekilas hampir tidak bisa
dibedakan antara kenduri biasa dengan
brokohan atas usaha baru ini, yang
membedakannya dengan kenduri biasa adalah
tujuannya ditujukan untuk melimpahkan rasa

[5]

syukur atas dibukanya usaha baru yang telah di
buka oleh yang punya hajat brokohan. Selain
itu diharapkan dengan adanya brokohan usaha
baru yang dibuka mendapatkan kelancaran
dalam beroperasi baik dalam penjualan
ataupun dalam hal promosi
Tradisi brokohan di Desa Kesambi
masih terus berkembang dan dilestarikan oleh
warga desa. Masyarakat desa Kesambi terus
melestarikan tradisi brokohan dengan maksud
untuk melimpahkan rasa syukurnya atas
segala sesuatu dan nikmat

untuk lebih legkapnya terkait budaya-budaya desa bisa dilanjutkan membaca di link buku berikut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *